Home / Traveling / Selalu ada Perjuangan di Balik Semuanya

Selalu ada Perjuangan di Balik Semuanya

Awalnya hanya impian untuk menginjakan di gunung impian ini. Tetapi kemudian, Allah memberikanku waktu dan kesempatan untuk menginjakan kaki di gunung impian ini, gunung Rinjani. Tepatnya pada tanggal 12 Mei-22 Mei 2015 adalah hari bersejarah bagiku. Karena pada tanggal 12 Mei adalah hari di mana aku memulai perjalanan yang cukup panjang. Aku berangkat dengan bersama dengan tiga orang lainnya dari Bandung menggunakan pesawat. Sebuah kegalauan pada awalnya, karena pada bulan Mei akupun harus melaksanakan test S2 di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di kota Bandung dan pada waktu itu tanggal pelaksanaan test belum diumumkan.

Sedangkan tiket pesawat sudah jauh-jauh hari dipesankan oleh teman, dan keberangkatan pada tanggal 13 Mei. Hari demi hari, akhirnya pelaksanaan test itu diumumkan. Dan ternyata, test tersebut dilaksanakan tanggal 12 Mei. Subhanallah, Allah Maha Baik memang. Pada tanggal 12 Mei, dengan do’a dan keyakinan aku ikut melaksanakan test tersebut. Pulang test, aku mempersipakan segala sesuatu yang akan di bawa ke gunung Rinjani mulai dari perlengkapan pribadi dan kelompok yang harus dibawa.

Dengan bismillah, tanggal 13 Mei aku berangkat dari Bandara di Bandung menuju Lombok. Perjalanan pertamaku menggunakan pesawat, gemetar rasanya, kekhawatiran sepanjang perjalanan menyelimuti, karena akhir-akhir sekarang banyak pemberitaan di televisi kejadian pesawat jatuh, dan sebagainya membuat kekhawatiran. Tetapi aku bertekad “hidup dan matiku aku berserah kepada Allah”.

Tnggal 13 Mei, aku bersama teman-teman sampai di Bandara Internasional Kota Lombok. Kemudian bergabung kembali dengan kedua orang teman, dan teman kenalan dua orang. Jadi kamui berdelepan. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk mengambil perjalanan dengan jalur Sembalun Perjalanan demi perjalananku lalui bersama teman-teman pendakian. Jalur Sembalun adalah salah satu jalur pendakian gunung Rinjani yang indah, bayak sekali hamparan sabananya. Sungguh indah bahkan kata-katapun tidak bisa tergambarkan. Dari perjalanan-perjalanan yang dilewati, salah satu favorit perjalanan adalah bukit penyesalan. Kenapa disebut penyesalan? Orang-orang berpendapat karena banyak bener-bener nyesel kalau gak kesana, ada juga yang mengatakan “bener-bener nyesel saya ke sini, karena capek sekali harus naik turun bukit, sebanyak tujuh bukit”. Trek berbatu, landai, nanjak harus dilewati selama bukit penyesalan ini, Betul-betul menguji kesabaran.

Akhirnya tanggal 17 Mei, jam 03.00 WITA aku bersama teman-teman pendakian meakukan summit Gunung Rinjani. Langkah demi langkah semakin lama, kulangkahkah kakiku sangat letih. Jam sudah menunjukkan jam 7 pagi. Menikmati sunrise di puncak yang diimpikan sudah tidak mungkin. Kulihat puncak yg diimpikan masih jauh, serasa ia masih perlu menguji ketabahanku agar bisa menghampirinya. Sahabat sahabat baru yang sudah sampai terlebih dahulu berteriak menyemangati. Suara kalian untuk menyemangati , “semangat mbak, sebentar lagi” kata mereka,kata kata itu serasa angin surga buatku. Terimakasih kalian, siapapun kalian yang sudah memberikan energi semangat.

Namun berkat tekad, niat dan semangat dan ijin Allah, akhirnya  bisa sampai disana dengan selamat. Bisa berdiri di puncak impian hasil dari perjuangan dengan memakai baju wisuda, alhamdulillah terimakasih ya rabb i.

chika with toga at rinjani

Akhirnya, setelah summit, kami memutuskan untuk berkemah kembali satu hari di Plawangan, tempat kami berkemah sebelum perjalanan ke puncak. Rencana kami tadinya ingin akan berkemah di danau Segara Anak, danau yang menjadi icon-nya gunung Rinjani. Tetapi rencana itu tidak bisa kami lakukan, karena satu orang teman kami ada yang cidera. Tidak mungkin kami meninggalkan teman kami yang cidera demi sebuah keinginan.Ya manusia bolehlah berencana, Allahlah yang memutuskan. Mungkin belum rezeki kami menginjakan kaki di danau Segara Anak. Jika Allah mengizinkan pasti ada jalan untuk kesana kembali.

Pada tanggal 18 Mei, kami turun dengan menggunakan jalur Sembalun kembali. Setelah kembali di desa Pegasingan, kami pun beristirahat kembali. Setelah itu, kami memutuskan untuk tinggal satu hari di daerah Lombok, karena tidak mempunyai teman kenalan di Lombok, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Mapala Universitas Mataram. Di sana kami dijamu dengan baik sekali. Terimakasih kalian.

Tanggal 19, kami pulang. Transport pulang kami menggunakan kapal air, bus dan kereta. Selama perjalanan pulang , alhamdulillah selalu ada orang yang baik yang mau membantu kami.  Suka cita kami lalui bersama, 10 hari merupakan hari yang panjang, 12 Mei-22 Mei, banyak sekali pelajaran yang didapatkan, memahami berbagai sifat dan karakter, masalah-masalah yang dihadapkan, kami bisa melewati itu semua, alhamdulillah hi robbil alamin

Mau Berbagi Cerita, Kisah, Inspirasi, dan Imaginasi Kamu di sini? kirim ke redaksi@beginiceritanya.com . Kamu bisa juga menulis langsung dengan mendaftar di beginiceritanya .


     

About Chika Petualang

Profile photo of Chika Petualang
My Travelling My Adventure

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *